Minggu, 02 November 2014

JERAWAT
Jerawat dapat mengganggu seorang anak sejak berusia 8 tahun. Jika tidak diatasi dengan baik,
gangguan jerawat dapat menetap hingga usia 40-an. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85 %
populasi manusia memiliki jerawat pada usia 12-25 tahun, dan 15 % lainnya mengalami pada usia di
atas 25 tahun. Unukkaum peremuan sekitar 40-45 % mempunyai masalah jerawat pada usia sekitar 14-17 thun. Sedangkan kaum laki-laki, sekitar 40 % juga menghadapi asalah jerwat pada usia sekitar 16-19 tahun. Itu berarti, perempuan menghadapi problem jerawat lebih relatif lebih mudah ketimbang
lelaki.

Penyebab Jerawat
Jerawat atau acne vulgaris, adalah ondisi abnormal kulit akibat miyak alami yang diproduksi
kulit menutup pori-pori. Inyak ini disebut sebum, yang dihasilkan oleh kelenjar minyak (sebaceous
gland). Sesugguhnya sebum dibutuhkan oleh kuli untuk menjaga kelambaban dan kelenturn. Kelenjar
minyak biasanya terdapat di lapisan kulit bagianwajah, leher, dada, dan lengan. Di sanalah daerah yang
sering ditubuhi jerawat. Jadi, penyebab utama timbulnya jerawat adalah produksi minyak yang terlalu
banyak oleh kelenjar-kelenjar minyak dalam kulit.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan jerawat antra lain stress, aktivitas hormon, akteri di pori-pori
kulit, dan iritasi kulit atau terkena garukan.

Mitos Seputar Jerawat
Sejak kapan dan dari mana mitos jerawat berasal, sulit ditemukan. Yang jelas hingga sekarang
mitos seputar jerawat, yakni hal-hal yang salah, masih berkembang di klangan masyarkakat.
Sepatutnya dibenarkan duduk perkaranya. Ini dia sebagian kecil mitos tersebut.



Tiga Tipe Jerawat
a. Jerawat Biasa
jerawat ini tampak berupa tonjolan kecil berwarna kemerahan. Terjadi karena pori-pori kulit
tersumbat dan terinfeksi oleh bakteri. Dari mana datangnya bakteri? Barangkali bakteri itu memang
terdapat pada permukaan kulit, tetapi bisa juga dari kuas make up, waslap, jari tangan, juga telepon.
Ketegngan saraf yang disebabkan oleh stress san aktivitas hormon memegang peranan dalam
meneruskan persoalan jerawat ini. Lazimnya jerawat tersebut muncul sekitar rahang dan dagu.
b. Jerawat Komedo
Komedo adalah nama ilmiah dari pori-pori yang tesumbat. Komedo dipilahan menjadi dua,
yakni komedo terbuka (blackhead) dan komedo tertutup (whitehead). Komedo terbuka tampak seperti
pori-pori yang membesar dan menghitam. Hanya saja warna hitam ini bukanlah kotoran, tetapi
penyumbat pori-pori yng berubah warna karena teroksidasi oleh udara. Sedangkan komedo tertutup
tampak seperti tonjolan putih pada kulit. Komedo ini lazimnya disebabkan oleh sel-sel kulit mati, atau
memang adanya kelenjar minyak yang berlebihan. Jerawat komedo seringkali muncul di wjah,
punggung dan dada.
c. Jerawat Jagung
Cystic acne atau jerawat jagung terlihat sebagi tonjolan-tojolan yang meradang hebat dan
tersebar di seluruh permukaan wajah. Inilah godfather-nya jerawat, acapkali membuat orang rendah
diri.

Gejala Timbulnya Jerawat
Sekurang-kurangnya terdapat empat gejala pokok yang menimbulkanjerawat, yaitu:
a. peningkt produksi minyak di kelenjar minyak
b. peningkatan hormon androgen,
c. Kondisi abnormal atas timbulnya bakteri dan jamur atau ynag disebut microflora di kulit, dan
d. Penebalan, penybatan, dan pengerasan pada sel-sel kulit.

Tip Merawat Jerawat
Dalam hal mencegah dan mengendalikan jerawat berfokus pada :
a. mengurangi produksi kelenjar miyak,
b. mengurangi penyumbatan dan penumpukan sel-sel mati, dan
c. mengurangi munculnya bakteri dan jamur yang mengakibatkan peradangan.
Bagaimana merawat jerawat yang benar?
a. Bersihkan kulit yang berjerawat secara teratur. Tapi tidak menggunakan sabun yang alkalis.
b. Lakukan olah raga paga hari yang mendapat sinar matahari.
c. Enam bulan sekali minum obat pencahar,
d. Konsumsi sayur-mayur seperti, daun ubi jalar merah, bayam, dauun melinjo, bawang daun, ercis,
dan wortel, juga mengonsumsi buah-buahan yang tua / matang seperti pisang, nanas, jeruk dan tomat.
e. Hindari kebiassaan memijit-mijit, memencet atau mengutk-atik jerawat dengan jari. Asyik sih, tetapi
kebiasaan ini membuat gangguan jerawat menjadi semakin parah.

PENGOBATAN ALAMI
Gerakan kembali ke alam (back to nature) mau tak mau semakin emndorong peemakaian bahan alam
sebagai bat. Dewasa ini ada sekitar 500 tanaman berkhasia obat, dan baru sekitar 500 tanaman yang
dapat diidentifikas. Jadi jelas, terbuka peluang untuk memanfaatkan ribuan tanaman obat yang tumbuh
di Indonesia. Di sisi lain, harg aobat produk pabrik cenderung semakin mahal. Padahal banyak orang
berharap ingin hidup sehat tapi murah. Itulah sebabnya, metode pengobatan alami yang memanfaakan
tanaman cenderung dipiih banyak orang.
Dilihat dari bahan tanama yang digunakan pengobatan alami dipilahkan menjadi dua, yakni:
(a) Ratah
artinya hanya menggunakan bahan tunggal atau tidak dicampur degan bahan lain, dan
(b) racikan
artinya menggunakan beberapa bahan yang diracik atau diramu menjai satu.
Ratah Mentimun (Cucumis sativus L. - Familia Cucurbitaceae)
Bahan : Buah mentimun muda 1 buah
Cara pembuatan : Buah mentimun dipotong rata-rata 3 cm x 3cm..
Cara pemakaian : Gosokkan pada wajah yang berjerawat selama 2 – 3 kali sehari.
Ratah Jeruk Nipis (Cirus aurantifolia L. - Familia Rutaceae)
Bahan : Buah jeruk nipis tua 1 buah
Cara pembuatan : Buah jeruk nipis diiris tepi-tepinya hingga menjadi 4 bagian.
Cara Pemakaian : Gosokkan pada wajah yang berjerawat selama 2 – 3 kalisehari
Ratah Tomat (Lycopersicon lycopersicum L. - Familia Solanaceae)
Bahan : Buah Tomat masak 1 buah
Cara pembuatan : Bua tomat dipotong rata-rata
Cara pemakaian : Gosokkan pada wajah yang berjerawat selama 2 – 3 kali sehari.
Racikan Belimbung Wuluh (Averrhoa bilimbi L. - Familia Oxalidaceae) dan Jeruk Nipis (Cirus
aurantifolia L. - Familia Rutaceae)
Bahan : Buah Belimbing Wuluh 6 buah
Air jeruk nipis 2 sendok makan
Serbuk belerang ½ sendok the
Cara pembuatan : Buah Belimbing Wuluh dan serbuk belerang digiling sampai halus, kemudian
diremas-remas dengan air jeruk nipis.
Cara Pemakaian : Ratakan pada wajah yang berjerawat selama 2 – 3 kali sehari.


Pustaka : Santoso, Hyeronimus Budi. 2010. Tampil Cantik Tanpa Jerawat. Victoria Press. Yogyakarta :
hal. 9-26.